Kenapa Harus Memakai Istilah "Ikhwan dan Akhwat"?, [hanya sebuah argumen semata]

Mungkin kata – kata Ikhwan dan Akhwat tak asing lagi bagi anda yang aktif di kajian – kajian Islam, terutama yang biasanya ada di kalangan anak muda (SMA atau Universitas) [hanya menutut pengamatan saya]. Atau mungkin bagi anda yang di dalam kelas anda ada seorang yang aktif pada kajian – kajian Islam, anda pasti sering mendengar istilah – istilah tersebut. Secara bahasa Ikhwas berarti Laki – Laki dan Akhwat berarti Wanita (bahasa Arab).  Saya sendiri tak tahu kapan istilah ini mulai sering digunakan, yang saya tau saya mulai mendengarnya pada masa SMA. Menurut pendapat saya penggunaan istilah ini sebenarnya tak perlu, toh artinya juga sama saja, kita juga punya bahasa sendiri kan?. Atau mereka anggap menggunakan kosa kata bahasa Arab merupakan Sunnah Rosul? Tentu tidak, Islam ini agama untuk semua, tak ada batasan ras, suku, ataupun bahasa (hanya memang pada beberapa Ibadah Maghdoh, seperti Sholat, kita memang harus menggunakan Baha Arab sesuai yang dilakukan Nabi Muhammad SAW).

Menurut hemat saya, cukuplah kita menggunakan bahasa kita sendiri (Laki – Laki dan Wanita), karena memang tak ada bedanya secara bahasa. Justru menurut saya, penggunaan Istilah ‘Ikhwan dan Akhwat’ sering menimbulkan kesenjangan sosial dalam suatu kelompok sosial misalnya kelas, mereka yang mungkin dikatakan lebih ‘alim’ yang sering menggunakan kata – kata ini (janganlah menambah lagi perbedaan yang membuat kita seolah semakin jauh). Padahal Islam bukan demikian, Islam itu damai islam itu indah islam itu pancaran cinta kasih yang seharusnya memancara ke semua mahluk, bukan pada suatu golongan tertentu.

Mungkin itu hanya pendapat saya, yang belum tentu kebenaranya bagi anda. Semoga tulisan saya dapat bermanfaat untuk kita semua. Sekian dan Terima Kasih.

Incoming search terms for this post:

perbedaan ikhwan dan akhwat,ikhwan dan akhwat,akhwat dan ikhwan,akhwan ikhwan,yhs-mystartdefault,istilah ikhwan dan akhwat

By kifni41 on January 10, 2010 · Posted in My Thought

11 Comments | Post Comment

cinta says:

setuju mas/mbak. terdapat kesenjangan sosial. saya sebagai orang indonesia asli ga merasa klop sama istilah ginian. kurang merakyat, kurang bisa masuk ke dalam kebudayaan indonesia. padahal islam itu rahmat bagi semesta alam, bukan cuma rahmat bagi orang arab aja. jadi klo di indonesia ya pake istilah laki2, perempuan ato cowok, cewek. ini secara umum di indonesia. klo di daerah, malah mungkin lebih pas pake bahasa daerah yang bersangkutan, daripada pake istilah2 arab gitu.

yang penting ajaran islamnya tersampaikan, dimengerti untuk kemudian dilaksanakan. tentang metode penyampaian hendaknya disesuaikan dengan masyarakat setempat. saya terus terang agak jengah dengan istilah itu. klo ga salah persoalan ini juga dipermasalahkan sama jefrrey lang, mualaf amerika yang profesor matematika itu. persoalan pakaian, bahasa, masa semua mau dibikin arab? dia amerika tulen. lahir dan besar di amerika. terbiasa dengan budaya amerika. pakaiannya kemeja, dasi dan jas. masa mo disuruh pake baju longdress gitu kaya pria2 arab? ga cocok. dia juga mempersoalkan ketika ada muslim yg mempertanyakan waktu dia nyebut ‘thank god’. kenapa ga nyebut ‘alhamdulillah’, maksudnya. padahal kan sama aja. jefrrey lang nulis buku tentang ini. saya lupa judul bukunya

Posted on April 10th, 2012

Nanda firnando says:

perlu di ingat gan,
syiar dalam agama islam awal nya dalam bahasa arab, seperti asal mulanya al-qur’an itu di turunkan,
anda sama hal nya dengan mengatakan mengapa kita tidak sholat dengan bahasa indonesia saja, bukankah allah swt tau segala bahasa ? bukan seperti itu juga kan,
….
afwan, untuk kajian saja,
tak ada salah nya berkata untuk panggilan seperti itu, toh coba2 belajar bahasa arab, dan lebih mengenal/ membiasakan diri lagi …
shukron katsir atas info nya …
🙂

Posted on April 22nd, 2012

kifni41 says:

Saya tau itu mas…
Kalau soal sholat sebagai sebuah ibadah mahdah yang sudah dijelaskan aturan – aturanya oleh Rosulullah…

Saya hanya coba melihat dari sisi lain dimana panggilan itu justru seolah menjauhkan antar sesama manusia… bukanya kita juga dituntut untuk dapat hablum minannas juga sebagai salah satu dari bagian ibadah muamalah…

🙂

Posted on May 28th, 2012

kifni41 says:

saya paham itu..
kalo sholat kan udah jelas aturanya sebagai ibadah maghdoh. Jadi gak bisa kita “kreatifkan” pakai bahasa lain.

Sementara dalam kajian di indonesia bahasa yang digunakan untuk syiar juga bahasa indonesia kan.

cuma saya coba lihat dari sisi lain, ketika panggilan itu didengar oleh kalangan umum, misal di kampus yang general. dari penglihatan saya itu membuat jarak antara “mahasiswa muslim biasa” dan “mahasiswa yang dikenal rain ikut kajian”.. itu aja 🙂

Thanks atas komentarnya.

Posted on July 3rd, 2012

Hikam Alfarchuzy Mohamad says:

Assalamualaikum

justeru kalau kemudian hal ini dibahas, malah memunculkan efek bermunculannya komen komen yang malah meruncing pada perbedaan ras, yang ujung-ujungnya menyentuh ranah keislaman itu sendiri….

kritis untuk hal esensial silahkan, masalah ikhwan dan akhwat sendiri bukan hal yang esensial untuk di kritisasi…

KENAPA GAK LEBIH TERTARIK MENGKRITISI ISTILAH ” BRO N SIST ” yang jelas bukan berasal dari kosakata islam ? padahal sekarang banyak sekali generasi muda sudah memaikanya dalam percakapan sehari-hari….

kalau penulis bilang akan memunculkan jarak antara “mahasiswa muslim biasa” dan “mahasiswa yang dikenal rajin ikut kajian”, bukankah ini kemudian bisa menjadi cambuk buat ” yang biasa ” untuk lebih rajin lagi supaya sejajar dengan ” yang rajin ” agar tak merasa ada kesenjangan dalam panggilan.

ambil semua dari positifnya, jangan meulu diliat dari negatifnya…

wassalam..

Posted on July 16th, 2012

kifni41 says:

Wa’alaikumsalam bro…
#kalau gak mau diterusin dibahas kenapa komen juga akhirnya 😀 (no offense)

istilah memang bukan hal esensial, tapi kalau salah penempatan juga bisa berbahaya..

Menurut saya tidak ada yg salah dari istilah “bro & sist”, panggilan itu sekarang dianggap umum, dan dari pandangan saya panggilan “broi&sist” tak menimbulkan kesenjangan (kecuali kalau anda merasa ada merasa derajatnya berubaha ketika dipanggil “bro”). Bukanya setiap muslim juga adalah saudara = brother / sister.

Saya sendiri tak ada masalah ketika dipanggil “ikhwan” atau “bro”, saya cuma berusasa melihat itu dari sisi yang lain. Bukanya ini bisa menambah pandangan anda dari sisi yang lain, sehingga bisa menempatkan istilah itu dalam situasi yang lebih tepat.

:shakehand

Posted on July 16th, 2012

Hikam Alfarchuzy Mohamad says:

istilah memang bukan hal esensial, tapi kalau salah penempatan juga bisa berbahaya..( saya kutip ya )

jadi kalau menggunakan ikhwan dan akhwat saat suasana membahas agama/ diskusi agama/ceramah agama itu salah tempat ya ?

ingat!!…bukan kebetulan bila Al Qur’an itu di turunkan dengan bahasa arab…

bukan kebetulan bila semua tata cara beribadah dalam islam menggunakan bahasa arab..

jadi hemat saya, sama sekali ga ada salahnya dengan ikhwan dan akhwat…

tapi susah ya, dalam otak penulis yang super kritis dan sangat cerdas ini, sudah tertanam bahwa hal itu salah, jadi mau di argumenkan bagaimanapun tetap terjadi penolakan…

Posted on July 17th, 2012

kifni41 says:

“jadi kalau menggunakan ikhwan dan akhwat saat suasana membahas agama/ diskusi agama/ceramah agama itu salah tempat ya ?”
saya gak pernah bilang yang semacam itu, dan memang menurut saya gak ada salahnya kok 🙂

Disini saya cuma mencoba memberikan gambaran lain yang mungkin bisa menambah luas pandangan teman – teman yang dari awal memang sudah dalam lingkungan dimana menganggap hal itu biasa, karena ada juga orang lain yang menganggap itu gak bisa.. 🙂

Masalah Al-Qur’an diturunkan pakai Bahasa Arab, kalau karena Nabi Muhammad tinggal di Arab dan bahasa yang digunakan bahasa arab (itu kalau pakai logika manusia [red:saya]), tapi mungkin juga ada alasan lain yangh hanya Allah yang tahu.
Lalu apakah bahasa arab itu lebih baik buat komunikasi muslim, atau mungkin dengan tambahan kosa kata arab dalam keseharian itu jadi lebih baik, apakah itu bisa menambah keislamian seseorang? Jangan lupa juga Allah menciptakan manusia itu dengan berbagai macam perbedaan, salah satunya bahasa. Allah menakdirkan kita (orang indonesia) dengan bahasa kita juga.

Salah satunya hal kecil sial perbedaan, adalah perbedaan pendapan anda dengan saya :-). Tapi bukankah perbedaan itu juga adalah hikmah 🙂

Posted on August 7th, 2012

m ali nur hamid says:

kenapa kok pakai kata ikhwan dan ikwat kalo menurut saya itu mah biasa aja ketika orang itu belajr bahasa arap atau berada di komunitas seperti itu

Posted on October 31st, 2012

kifni41 says:

kalo niatanya emang gitu gak ada masalah. dan niatnya lain juga gak masalah. saya cuma mau coba lihat dari sudut pandang lain aja 🙂

Posted on October 31st, 2012

ridwan putra pagar nusa malang says:

ma’aff ya sobb…. gni jaa ngak usa di kaji terlalu luas.. yg penting kta bicara pada kondisi &tmpat yg akan kta bicarakan
Ya untuk kalanggan anak muda ya ngak papa pakek bhasa itw..! pi hrus tau situasi & kondisi

Posted on October 20th, 2013