11 responses to “Kenapa Harus Memakai Istilah "Ikhwan dan Akhwat"?, [hanya sebuah argumen semata]”

  1. cinta

    setuju mas/mbak. terdapat kesenjangan sosial. saya sebagai orang indonesia asli ga merasa klop sama istilah ginian. kurang merakyat, kurang bisa masuk ke dalam kebudayaan indonesia. padahal islam itu rahmat bagi semesta alam, bukan cuma rahmat bagi orang arab aja. jadi klo di indonesia ya pake istilah laki2, perempuan ato cowok, cewek. ini secara umum di indonesia. klo di daerah, malah mungkin lebih pas pake bahasa daerah yang bersangkutan, daripada pake istilah2 arab gitu.

    yang penting ajaran islamnya tersampaikan, dimengerti untuk kemudian dilaksanakan. tentang metode penyampaian hendaknya disesuaikan dengan masyarakat setempat. saya terus terang agak jengah dengan istilah itu. klo ga salah persoalan ini juga dipermasalahkan sama jefrrey lang, mualaf amerika yang profesor matematika itu. persoalan pakaian, bahasa, masa semua mau dibikin arab? dia amerika tulen. lahir dan besar di amerika. terbiasa dengan budaya amerika. pakaiannya kemeja, dasi dan jas. masa mo disuruh pake baju longdress gitu kaya pria2 arab? ga cocok. dia juga mempersoalkan ketika ada muslim yg mempertanyakan waktu dia nyebut ‘thank god’. kenapa ga nyebut ‘alhamdulillah’, maksudnya. padahal kan sama aja. jefrrey lang nulis buku tentang ini. saya lupa judul bukunya

  2. Nanda firnando

    perlu di ingat gan,
    syiar dalam agama islam awal nya dalam bahasa arab, seperti asal mulanya al-qur’an itu di turunkan,
    anda sama hal nya dengan mengatakan mengapa kita tidak sholat dengan bahasa indonesia saja, bukankah allah swt tau segala bahasa ? bukan seperti itu juga kan,
    ….
    afwan, untuk kajian saja,
    tak ada salah nya berkata untuk panggilan seperti itu, toh coba2 belajar bahasa arab, dan lebih mengenal/ membiasakan diri lagi …
    shukron katsir atas info nya …
    🙂

  3. Hikam Alfarchuzy Mohamad

    Assalamualaikum

    justeru kalau kemudian hal ini dibahas, malah memunculkan efek bermunculannya komen komen yang malah meruncing pada perbedaan ras, yang ujung-ujungnya menyentuh ranah keislaman itu sendiri….

    kritis untuk hal esensial silahkan, masalah ikhwan dan akhwat sendiri bukan hal yang esensial untuk di kritisasi…

    KENAPA GAK LEBIH TERTARIK MENGKRITISI ISTILAH ” BRO N SIST ” yang jelas bukan berasal dari kosakata islam ? padahal sekarang banyak sekali generasi muda sudah memaikanya dalam percakapan sehari-hari….

    kalau penulis bilang akan memunculkan jarak antara “mahasiswa muslim biasa” dan “mahasiswa yang dikenal rajin ikut kajian”, bukankah ini kemudian bisa menjadi cambuk buat ” yang biasa ” untuk lebih rajin lagi supaya sejajar dengan ” yang rajin ” agar tak merasa ada kesenjangan dalam panggilan.

    ambil semua dari positifnya, jangan meulu diliat dari negatifnya…

    wassalam..

  4. Hikam Alfarchuzy Mohamad

    istilah memang bukan hal esensial, tapi kalau salah penempatan juga bisa berbahaya..( saya kutip ya )

    jadi kalau menggunakan ikhwan dan akhwat saat suasana membahas agama/ diskusi agama/ceramah agama itu salah tempat ya ?

    ingat!!…bukan kebetulan bila Al Qur’an itu di turunkan dengan bahasa arab…

    bukan kebetulan bila semua tata cara beribadah dalam islam menggunakan bahasa arab..

    jadi hemat saya, sama sekali ga ada salahnya dengan ikhwan dan akhwat…

    tapi susah ya, dalam otak penulis yang super kritis dan sangat cerdas ini, sudah tertanam bahwa hal itu salah, jadi mau di argumenkan bagaimanapun tetap terjadi penolakan…

  5. m ali nur hamid

    kenapa kok pakai kata ikhwan dan ikwat kalo menurut saya itu mah biasa aja ketika orang itu belajr bahasa arap atau berada di komunitas seperti itu

  6. ridwan putra pagar nusa malang

    ma’aff ya sobb…. gni jaa ngak usa di kaji terlalu luas.. yg penting kta bicara pada kondisi &tmpat yg akan kta bicarakan
    Ya untuk kalanggan anak muda ya ngak papa pakek bhasa itw..! pi hrus tau situasi & kondisi

Leave a Reply