[Ride Report] Gowes Jogja – Lombok : Ride to Jambore KOSKAS

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis cerita perjalanan sepeda dari Jogja menuju Lombok ini. Cerita ini berawal dari keinginan teman saya, Septyadi untuk mengunjungi Lombok menggunakan sepeda, dan akhirnya saya tertarik untuk menemaninya. Selain itu, kebetulan SKJ (Sepeda Kaskuser Jogja) akan menjadi tuan rumah JAMBORE KOSKAS (Komunitas Sepeda Kaskus), dan akhirnya kamipun menambah misi perjalanan yaitu dengan tema Road to Jambore KOSKAS, yang dimaksudkan untuk mengkampanyekan JAMBORE KOSKAS kepada Regional Kaskus di kota – kota yang kami lewati.

Hari Pertama : Jogja – Solo (19 Oktober)

Perjalanan hari pertama ini kami mulai dari Tugu Jogja, kami berangkat dari sana sekitar pukul 17.30. Kami ternyata tidak hanya berdua, setidaknya sampai lampu merah Janti, karena kami sempat menadapat kawalan dari TS SKJ, Sulis (sukaskuslis) dengan sepeda “Helios Special Seriesnya” :D.

Nampaknya perjalanan hari pertama ini memang tidak terlalu berat, karena memang rute yang dilalui relatif datar dan kondisi jalanya juga cukup baik. Relatif hanya kendala “panas” yang menemani kami, kami akhirnya menutuskan untuk mengganti kaos Official Road to Jambore Koskas dengan jersey sepeda selayaknya, karena warna kaos yang hitam memang kurang bersahabat di terik matahari :D.

Akhirnya kami sampai di Kota Solo sekitar pukul 12 siang. Kemudian kami menuju tempat istirahat kami (kebetulan Septyadi punya teman yang kos di Solo). Kami sampai di sana sekitar pukul 1 siang.

Malamnya kami bertemu dengan teman teman komunitas di Solo : Bike to Work, KOSKAS Solo, dan juga Kaskuser Regional Solo, sebelum kami memutuskan untuk istirahat karena besok pagi harus melanjutkan perjalanan.

Hari Kedua : Solo – Sragen – Ngawi – Padas (20 Oktober)

Kami memulai perjalanan hari kedua ini sekitar pukul 6 pagi, perjalanan kali ini menyusuri Jalan Solo – Sragen yang kondisi jalanya lumayan lebih buruk dari perjalanan hari pertama :D. Kami akhirnya sampai di Kota Sragen sekitar pukul 9.00. Perjalanan terus dilanjutkan sampai kiar2 10 km sebelum kota Ngawi, kira2 pukul 11.30 kami menemukan tempat yang sangat nyaman untuk beristirahat, etpatnya di salah satu warung kelapa muda di tengah hutan ngawi yang cukup rindang. Setelah menghabiskan 2 buah kelapa muda utuh, kami tergoda untuk menggelar matras dan akhirnya kami tertidur sampai sekitar pukul 13.00. Kemudian kami melanjutkan lagi perjalanan sampai sekitar pukul 14.00. Kami berhenti untuk Sholat Dzuhur dan dilanjutkan dengan istirahat (lagi). Selepas Sholat Ashar, kami baru melanjutkan perjalanan lagi. Baru berjalan 30 menit, kami terpaksa untuk mengentikan kayuhan kami, karena hujan turun (FYI : ini hujan pertama yang kami rasakan musim itu, karena sampai hari kami berangkat, Jogja belum hujan :D). Kami bertedur di Pos Polisi sampai sekitar pukul 16..45. Saat itu hujan telah reda, dan kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Kota Ngawi. Dan kami akhirnya sampai di Kota Ngawi +- pukul 5 sore.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami menutuskan untuk melanjutkan lagi perjalanan sampai perbatasan Kabupaten Ngawi, karena memang susana masih mendukung (FYI : rencana awal, kami bermalam di kota ngawi). Kayuhan demi kayuhan terus kita lakukan, sampai akhirnya ada sesuatu yang menghambat kayuhan kaki kami. Yah, angin kencang yang berlawanan arah dengan kami muncul, kami mencoba untuk terus melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya kami terhenti di sebuah Pom Bensin di Kecamatan Padas, masih di Kabupaten Ngawi. Kebetulan sekali, diseberang jalan depan Pom Bensin ada sebuah warung makan. Kami memutuskan untuk singgah dulu disana :D. Dan saat baru saja memasuki warung, hujan yang disertai angin kencang turun.

Mencoba melupakan sejekan susana yang sebenarnya kurang kondusif, Rupanya perjalanan hari itu membuat nafsu makan kami melonjak :D, setidaknya 3 Nasi rawon,1 Nasi Gule, 4Air mineral gelas, 2gelas kopi,1jeruk hangat plus sprite tak terasa masuk di perut kami :D. Belum laka kami menikmati rasa kenyang, kami dikejutkan dengan padamnya listrik, mungkin karena hujan disertai angin kencang itu.

Kami memutuskan untuk menginap di Pom Bensin tersebut, karena pertimbangan cuaca dan kondisi fisik (terutama untuk persiapan keesokan harinya), meskinpun kami ditawari penginapan di Kecamatan Caruban yang sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari situ. Sekitar pukul 06.30 kami bergegas  meninggalkan warung makan, dan menuju Pom Bensin tersebut. Setelah itu kami bersih-bersih badan, sholat magrib, dan menata tempat untuk bisa istirahat. Kami memutuskan untuk tidur di samping Mushola Pom Bensin tersebut, karena memang tidak diperbolehkan untuk tidur dalam mushola J. Selepas Sholat Isya kami mulai “mapan” untuk tidur, walau kenyataanya kita cukup lama ngobrol2 sampai sekitar pukul 9 malam.

Masuk Jawa Timur

Masuk Jawa Timur

Meninggalkan Kota Ngawi

Meninggalkan Kota Ngawi

[Maaf kalo setelah ini catatan akan dipersingkat 😀 karena tak terasa sudah cukup panjang :D]

Hari Ketiga : Padas – Nganjuk – Jombang – Mojokerto (21 Oktober)

Setelah Sholat Subuh, Mandi, sekitar pukul 06.00 kami berangkat menuju Mojokerto, melewati Nganjuk dan Jombang.Perjalanan relatife sama dengan sebelumnya. Melewati jalan aspal 😀 , istirahat menjelang Dzuhur, Makan Siang, Istirahat Siang, Sholat Ashar dan berangkat lagi.

Kami akhirnya sampai di Jombang sekitar pukul 6 sore. Kami memutuskan untuk berhenti makan di salah satu warung makan kecil disana, dan sekalian Sholat Magrib disana. Di Jombang kami juga sempat bertemu dengan kaskuser Regional Jombang .

Sekitar pukul 08.30 malam, kami baru mulai berangkat lagi menuju Mojokerto. Kami sampai di Mojokerto sekitar pukul 09.30, dan kami disambut oleh kawan – kawan kaskuser Regional Mojokerto. Setelah itu kami langusng menuju tempat istirahat di rumah salah satu sodara saya di Mojokerto.

Bareng Kaskuser Reginal Mojokerto

Bareng Kaskuser Reginal Mojokerto

Hari Keempat : Mojokerto – Surabaya (22 Oktober)

Hari keempat agak berbeda dari biasanya, Karena kami baru memulai perjalananan setelah Ashar, ini karena memang jarang dari Mojokerto – Surabaya tergolong tidak terlalu jauh. Perkiraan kami, sekitar pukul 7 malam kami sudah sampai disana. Dan memang kami sampai disana kurang lebih pukul 7 malam, kami disambut hangat oleh kawan-kawan biker di Surabaya (Om Dama, Om Cahyo, Om Herdy, Om Ricki, dan beberapa kawan KOSKAS Surabaya). Mungkin video ini lebih dapat menggambarkan bagaimana hangatnya penyambutan mereka :

Hari Kelima : Car Free Day Surabaya (23 Oktober)

Keesokan harinya, kami diajak untuk melihat-lihat suasana Car Free day ditemani Om Cahyo, Om Herdy dan beberapa kawan KOSKAS Surabaya.

Hari Keenam : Surabaya – Malang (24 Oktober)

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 6 pagi. Tapi ternyata pukul 6 pagi disana beda sama di Jogja, selain sudah terang, jam 6 pagi disana juga sudah mulai panas :D. Perjalanan ini mungkin merupakan perjalan paling “menyebalkan”. Memang ini bukan perjalanan paling berat, tetapi suasana perjalanan yang membuat perlajan ini kami sebut “menyebalkan”. Bayangkan saja, mulai dari Surabaya dan Sidoarjo (termasuk Jalur Porong), dimana kami dihadapkan dengan kemacetan ditambah susana yang panas.

Akhirnya kami sampai di Kota Malang sekitar pukul 12 Siang. Kami disambut oleh salah satu teman naik gunung-nya Septyadi (saya lupa namanya :D). Kemudian kami, diajak makan siang ke salah satu warung makan disana, kemudian kami menuju ke Sekretariat Mapala UM (Universitas Negeri Malang) “Jonggring Salaka”. Kami ngobrol – ngobrol dan istirahat siang disana. Sampai akhirnya sore hari sekitar pukul 5 sore, kamu dijemput oleh Okto Toraja (salah satu kawan naik gunung Septyadi), untuk menginap di rumahnya.

Bareng anak2 Jonggring Salaka

Bareng anak2 Jonggring Salaka

Hari Ketujuh : Malang – Lumajang (25 Oktober)

Setelah bagun, Sholat Subuh, mandi, dan sarapan di rumah Okto. Kami melanjutkan perjalanan menuju Lumajang. Mungkin bisa dikatakan ini perjalanan paling berat, walau ini juga perjalanan paling menyenangkan. Rute yang kami lewati, menurut Om Dama, merupakan salah satu rute On Road Legendari Jawa Timur.

Yah, memang benar kalau ini dikatakan rute legendaris Jawa Timur, karena sepanjang alas Dampit sampai ke Piket Nol, kami dihadapkan dengan tanjakan demi tanjakan. Kami sampai di piket Nol (titik puncak jalur Dampit) sekitar pukul 03.30 sore. Saat itu mulai melewati turunan pertama, kami benar – benar kegirangan seperti orang gila, kami teriak – teriak wah wuh ah oh tak jelas (gambaran ekspresi bahagia setelah melewati Piket Nol).

Akhirnya kami sampai di Kecamatan sebelum Lumajang skitar pukul 4 sore. Disana kami bertemu dengan salah satu teman Septyadi, dan kami disuguhi dengan Bakso (kebetulan suami teman Septyadi, ayahnya punya warung bakso,,, mantap:D). Setelah makan bakso, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah teman Septyadi untuk menginap disana.

Turunan setelah Piket Nol

Turunan setelah Piket Nol

Pemandangan di salah satu Jembatan Setelah Piket Nol

Pemandangan di salah satu Jembatan Setelah Piket Nol

Ngleseh...

Hari Kedelapan : Rest Day (26 Oktober)

Sebelumnya kami berencana untuk melanjutkan perjalanan hari ini, tetapi pagi harinya rasa malas mengdatangi kami. Akhirnya dengan alasan untuk mencuci baju – baju kotor kami yang sudah menumpuk, kami memutuskan untuk beristirahat di Lujang sehari lagi.

Hari Kesembilan : Lumajang – Jember (27 Oktober)

Setelah bangun, Subuh, dan sarapan. Kami memulai perjalanan kami menuju Jember. Jalan yang kami lalui kali ini relatif datar. Walau kadang cukup membosankan karena jalur lurus panjang, dengan pemandangan yang sama.

Kami sampai di Alun – Alun Kota Jember sekitar pukul 12 siang, dan kami disambut beberapa teman Kaskus Regional Jember, kemudian kami diajak untuk makan siang. Menu ayam bakar menyambut kami kali ini, nyam..nyam..

Setelah makan siang, kami menuju kediaman agan Yusendo (RL Kaskus Jember). Disana kami istirahat siang. Dan malam-nya kami diajak Kopdar bareng temen – temen Regional Jember.

Bareng Keluarga Yusendo sebelum melanjutkan perjalanan

Bareng Keluarga Yusendo sebelum melanjutkan perjalanan

Hari Kesepuluh : Jember – Banyuwangi (28 Oktober)

Mungkin perjalanan ini merupakan salah satu perjalanan terberat, karena lagi – lagi, kami harus melewati satu lagi Rute Legendaris Jawa Timur yaitu melewati alas Gumitir. Disana kami dihapatkan dengan tanjakan – demi tanjakan yang berbelok – belok cukup tajam.

Kami melewati titik puncak tanjakan di Alas Gumitir sekitar pukul 4 sore. Dan kami akhirnya sampai di Banyuwangi sekitar pukul 6.30 malam. Kami disambut oleh kawan – kawan kaskuser Regional Banyuwangi di salah satu warung kopi pinggir jalan disana. Setelah itu kemudian kemi menuju rumah Andi, kaskuser Banyuwangi.

Gumitir... Oye...

Gumitir... Oye...

Hari Kesebelas : Banyuwangi – Gilimanuk (29 Oktober)

Kami baru berangkat menuju Pelabuhan Ketapang dari kediaman Andi, sekitar pukul 4 sore. Dan kami menyebrang dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul 6 sore.

Di Gilimanuk kami memutuskan untuk mencari penginapan murah. Dan, berkat bantuan Om Dama, yang memberi informasi penginapan, kami akhirnya menemukan tempat untuk istirahat malam itu.

Hari Keduabelas : Gilimanuk Denpasar (30 Oktober)

Perjalanan kali ini melewati jalur Gilimanuk – Negara – Denpasar. Setelah melewati Kawasan Hutan Bali Barat, kami dihapkan dengan tanjakan – tanjakan di jalur pentai selatan Bali.

Akhirnya kami sampai di Denpasar sekitar pukul 4 sore. Dan kami disambut oleh agan Jack_Item, dan kami langsung menuju rumahnya. Setelah  istirahat sebentar, mandi, dan makan. Kami diajak untuk jalan – jalan di Kuta.

Hari Ketigabelas : Bike to Pulau Serangan (31 Oktober)

Kami memutuskan untuk menikmati satu hari lagi di Bali, paginya kami diajak oleh agan Jack_Item untuk bersepeda ke Pulau Serangan. Walau namanya, pulau tetapi kami tidak perlu menyebrang dengan kapal, karena beberapa tahun yang lalu, telah dibangun jembatan yang menghubungkan Pulau Serangan dengan Pulau Bali.

Disana kami menuju Pantai Pulau Seranga, dimana cukup banyak turis yang berlatih selancar disana. Satu buah kelapa muda, masing – masing kami habiskan sembari menikmati pemandangan di Pantai Pulau Serangan.

Pulau Serangan

Pulau Serangan

Pantai Pulai Serangan

Pantai Pulai Serangan

Hari Keembatbelas : Denpasar – Mataram (1  November)

Perjalanan terakhir ini kami mulai sekitar pukul 7 pagi. Kami melewati jalur By Pass menuju Pelabuhan Padang Bai. Kami sampai di pelabuhan padang Bai sekitar pukul 11.30 siang.

Setelah itu kami harus menunggu di Kapal sekitar 4 jam sebelum sampai di Pulau Lombok. Saat di kapal saya bertemu dengan seorang backpacker Perancis dan sempat ngobrol- ngobrol denganya (walau dengan kemampuan english seadanya). Dia bercerita bahwa sudah hampir sehatun ini dia ber-backpacker-ria. Sebelum di ke Bali dan akhirnya menuju Lombok, dia sudah mengililingi Australia. Dia mengatakan bahwa perjalanan ini dilakukan sebelum dia memulai dunia kerja, setahun yang lalu dia baru lulus dari universitas.

Saya juga bercerita tentang perjalanan saya, diapun agak tertarik untuk terjun ke dunia bikepacker, mungkin Eropa merupakan tempat yang bagus untuk itu. haha.

Akhirnya kami sampai di Pelabuhan Lembar sekitar pukul 03.30 sore, dan kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Mataram. Kami sampai di Mataram, tepatnya di Sekeretariat Mapala Fak Hukum UNRAM. Kami disambut baik oleh kawan – kawan Mapala disana.

Keesokan harinya, kemi dijemput oleh agan bremmakibo, salah satu kawan kaskuser Regional NTB, kemudian kami menuju kediaman agan SluwSluw (RL Reginal NTB).

Malamnya kami diajak untuk Kopdar bareng kaskuser Regional NTB, sebelumnya kami diajak makan malam, Ayam Taliwang, makanan khas Mataram. Rasa pedasnya yang khas benar – benar mengobrak – abrik lidah kami. Mantappp.

Tiket Khusus Sepeda Pelabuhan Padang Bai

Tiket Khusus Sepeda Pelabuhan Padang Bai

Finish : Sekretariat Wapala UNRAM

Finish : Sekretariat Wapala UNRAM

Ayam Taliwang

Ayam Taliwang

Perjalanan Pulang ke Jogja (3 -4 Novermber 2011)

Hari sebelumnya kami telah merncanakan untuk pulang ke Jogja naik Bis. Untuk itu saya harus membongkar sepeda agak mudah untuk ditempatkan di bis (copot wheelset dll).

Di Perjalanan kapal, Lombok - Bali

Di Perjalanan kapal, Lombok - Bali

Akhirnya kami sampai di Jogja, 4 November 2011.

Habis Makan Bakso Janti

Sungguh ini merupakan pengalaman saya, yang mungkin susah untuk terlupakan. Perjalanan ini membuat saya melihat cukup banyak tempat menarik, bertemu banyak orang – orang baik, menarik dan luar biasa.

Terimakasih kepada semua kawan – kawan yang telah membantu dalam perjalanan kami.

🙂

 

Reference :

Official Thread Road To Jambore Koaskas

My Album : Road to Jambore Koskas

By kifni41 on December 29, 2011 · Posted in Bike

Be the first to post a comment.